Oktober 25, 2021

Potolo Di Mata Dua Aktivis Senior BMR

BOLMONG,JurnalBMR.com– Aktifitas pertambangan emas di lokasi potolo desa tanoyan selatan kecamatan Lolayan sangat membantu kondisi ekonomi ratusan pekerja tambang manual di tengah krisis ekonomi pasca pandemi covid -19.

Lepas dari status lokasi pertambagan potolo yang diduga tak berijin namun di sisi lain ratusan warga sangat menggantungkan hidupnya di sana.

Kepada media ini salah satu warga penambang manual yang minta namanya tak di sebut mengutarakan isi hatinya .

Aktiftas kami sehari-hari adalah mengambil material di potolo dengan menggunakan alat manual dan biasanya dalam sehari kami dapat 2 sampai 3 Koli material.

Setelah itu kami angkut dengan jasa ojek dengan biaya 60 rb per/ Koli, sehingga jika di hitung kami dapat 90 sampai 100 rb , ” kata sumber yang mengaku mencari nafkah di potolo untuk biaya ibunya yang sakit.

Hal yang sama juga di alami oleh Anto yang berprofesi sebagai tukang ojek, Dalam sehari biasanya kami dapat angkutan ojek 2 sampai 3 Koli material jika di hitung kami dapat 80 hingga 100 rb perhari dan bagi kami itu sudah lebih dari cukup , Intinya bagi kami warga lokal (Kalikit) bekerja di potolo bukan mencari kaya tapi mencari kehidupan untuk anak istri,” Curhat Anto.

Curahan hati dua penambang lokal tersebut hanya sebuah catatan kecil dari ratusan Manusia yang menggantungkan hidupnya di lokasi potolo meski hanya sekedar mencari makan untuk anak istri.

Salah satu aktifis BMR Irawan Damopolii angkat bicara terkait persoalan sosial ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup mereka di tanah negara meski secara hukum beresiko.

Lebih lanjut Irawan mengungkapkan bahwa sudah saatnya negara mensuport artinya siapapun yang mewakili negara harus berpikir memberikan payung hukum kepada para penambang lokal kecil-kecilan yang bekerja secara manual.

Kenapa itu di lakukan agar para penambang wong cilik yang hanya sekedar mencari nafkah demi sesuap nasi ketika mengambil sumber kehidupan dan pendapatan , mereka aman dari segi hukum, ” ungkap Irawan.

Irawan menambahkan selaku corong publik harusnya Kita sebagai aktifis harus berbicara dengan semangat perlindungan asasi , ingat mereka penambang kecil bukan mafia, ” tegas aktivis vokal ini.

Meski di ungkapkan secara umum namun pernyataan Irawan ini seakan mewakili ratusan penambang kecil yang sampai saat ini menggantungkan hidup mereka di potolo.

Hal yang sama juga di katakan oleh Aktivis senior BMR Ridwan Naukoko, Menurutnya mereka yang beraktivitas di potolo hampir semua warga pribumi. Nah, di masa lusuh ekonomi pasca pandemi seperti sekarang ini banyak warga lokal yang menggantungkan hidupnya di potolo, Artinya ruang kehidupan di potolo sangat penting bagi warga lokal.

Ridwan menambahkan dengan adanya aktivitas di potolo angka kriminalitas juga menurun, Kenapa ? karena ekonomi masyarakat terpenuhi ketika beraktivitas di tambang potolo, ” Ucap ridwan.(Tim)