Oktober 25, 2021

Lokasi Tambang Lobong Jadi Tumpuan Hidup Warga

BOLMONG – Aktifitas penambangan yang berlokasi di desa Lobong kecamatan Passi barat kabupaten bolaang Mongondow bagi warga masyarakat desa Lobong dan sekitarnya menjadi tumpuan hidup di masa pandemi Covid 19.

Pasalnya 80 persen warga masyarakat Lobong sebelumnya menggantungkan hidupnya sebagai petani nenas kini beralih menjadi penambang tradisional. Semenjak wabah virus Corona melanda negeri ini sejak tahun 2020 lalu harga nenas terjun bebas di bawah harga pasaran.

Meski tidak punya keahlian bertambang namun kondisi ekonomi yang dampaknya mengancam perekonomian warga memaksa mereka untuk bertambang tujuannya hanya satu yakni mencari nafkah untuk menghidupi keluarga di rumah.

Seperti kata Sapri kepada JurnalBMR.com, Awalnya kami tak ada niat untuk bekerja sebagai penambang karena selama hidup kami tidak pernah bekerja sebagai penambang namun kondisi saat itu di hadapkan pada dua pilihan yakni nekat bertambang atau anak istri kelaparan, ” Ucap Sapri.

Meski hanya menggunakan alat manual ( betel) bersama warga lainnya kami mencoba pekerjaan baru yakni bekerja sebagai penambang tradisional.  Sapri menyebut jika tanah yang di jadijkan lahan  pertambangan tersebut adalah tanah milik  sendiri yang punya legalitas kard desa.

Bagi Sapri dan warga Lobong lainnya, Lepas dari status lokasi pertambangan tersebut yang tidak berijin namun keberadaanya sangat membantu menghidupi keluarganya di tengah wabah Covid 19.

Sementara itu salah satu tokoh masyarakat Passi barat yang juga mantan anggota DPRD Bolmong Herman kembuan kepada media ini angkat bicara terkait keberadaan lokasi penambangan yang berada di desa Lobong .

Menurut Herman adanya wabah Covid 19 membuat Lusuh perekonomian dan hampir sebagian warga masyarakat Lobong dan sekitarnya terancam kehilangan pekerjaan. Di karenakan hasil perkebunan buah nenas yang menjadi tumpuan hidup masyarakat Lobong harganya sangat merosot.

Sehingga kata Herman keberadaan lokasi pertambangan di desa Lobong yang hanya menggunakan alat manual (betel) hanya untuk menghidupi kelurga di rumah, ” imbuh Herman.

” Kasihan masyarakat, Mereka butuh biaya hidup di masa pandemi ini lagi pula tanah yang di jadikan lahan tambang tersebut itu milik warga bukan hutan lindung atau taman nasional , ” Tandasnya. (Tim)